IMG-LOGO
EBT

Optimalisasi PLTP Area Eksisting, PGE Gunakan Teknologi Binary Cycle

-
IMG

Jakarta, teknonomi-- Kementerian ESDM melalui Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) sedang mencanangkan program optimalisasi PLTP dengan menggunakan teknologi. Implementasi program ini bertujuan agar PLTP bisa mencapai tingkat efisiensi maksimal, yaitu; sumberdaya panas bumi yang berkelanjutan, konservasi energi, serta penghematan biaya investasi.



“Kita sedang mendorong ini. Teknologinya juga sudah ada. Kita juga berharap ini bisa mendatangkan investasi dari luar. Optimalisasi bisa dilakukan pada PLTP yang sudah berumur puluhan tahun ataupun yang belum lama komersil. Tinggal bagaimana Pengembang berkoordinasi dengan PLN sebagai offtaker dalam menghitung keekonomiannya,” jelas Direktur Panasbumi, Ida Nuryatin Finahari kepada teknonomi dalam acara konfrensi pers di kantornya, belum lama ini di Jakarta.



Menurut Ida, salah satu teknologi yang bisa digunakan adalah menggunakan binary cycle. Teknologi ini memanfaatkan sisa air panas sebelum diinjeksikan ke dalam sumur injeksi. Dibandingkan melakukan pemboran sumur baru, teknologi binary bisa langsung menggunakan sisa energi panas yang telah dimanfaatkan, maka investasi proyeknya bisa lebih kecil.



“Dengan teknologi ini, sumber air panas dari PLTP tidak langsung dibuang, akan tetapi dimanfaatkan kembali oleh teknologi binary. Ini membuat pengembang bisa efisien dan tidak perlu repot-repot melakukan pemboran untuk tambahan kapasitas terpasang PLTP,” imbuh Ida.



Menanggapi hal ini, Manajer Portfolio & Business Development PT PGE, Bagus Bramantio, menjelaskan lebih lanjut, sistem teknologi ini sebenarnya mirip dengan cara kerja pembangkit uap. Dimana cara kerja turbin termodinamika menggunakan siklus rankine tradisional yang menggunakan cairan organik sebagai fluida. Panas dari turbin termodinamika kemudian ditransfer ke loop diatermik tertutup, yang bertindak sebagai vector termal sebagai pemanas untuk loop cairan organik.



Dengan bantuan minyak diathermic dan cairan organik,maka  sumber panas suhu rendah dieksploitasi secara efisien untuk menghasilkan pasokan daya listrik hingga 5 MW per unit. “Total efisiensi yang diraih PLTP bisa sampai 13% dan rata-rata bisa meningkatkan produksi listrik sekitar 30 MW atau bisa menambah 20%-30% dari kapasitas sebelumnya,“ ungkap Bagus.



Perdana di Lahendong



Bagus menjelaskan, PT PGE telah bekerja sama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Indonesia) dan GFZ (GeoForschungsZentrum) Potsdam mengembangkan PLTP Binary Cycle berkapasitas 500 kW di Area Lahendong, Sulawesi Utara. Perjanjian bersama antara PGE-GFZ-BPPT dilakukan sejak tanggal 17 Januari 2012 dan sudah diserahterimakan pada awal tahun 2019 kemarin.



“Jadi teknologinya hibah dari GFZ Jerman yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan dan Penelitian Jerman. Setelah selesai plant ini dihibahkan ke pemerintah Indonesia", jelas dia kepada teknonomi, di Jakarta, Jumat, 1 November 2019.



Bagus mengatakan, kerjasama yang mencakup penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) kedua belah pihak Indonesia dan Jerman dalam hal penguasaan teknologi geothermal. Selain itu, Ia mengharapkan dari kerjasama ini maka kedepan diharapkan akan ada alih teknologi sehingga tidak mustahil kedepan Indonesia bisa menciptakan sendiri tekologi ini.


“Dengan begitu kita bisa usaha peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dan tidak melulu membeli barang dari provider teknologi saja”, tukas pria yang juga menjabat Ketua Serikat Pekerja PT PGE ini. (W1)